Me, Myself, & I

Foto saya
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Do the best for the progress

Sabtu, 03 Juli 2010

Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan /kondisi financial perusahaan pada suatu saat tertentu. Neraca memperlihatkan keseimbangan PDA yaitu harta = hutang + modal. Ada dua format penyajian neraca, Yakni:
1. Skontro
Formatnya berbentuk T atau dikenal sebelah menyebelah. Sisi kiri diisi laporan Harta sedangkan Sisi kanan diisi laporan Hutang dan Modal. Total harta harus seimbang dengan jumlah dari total hutang dan total modal sehingga sisi kiri dan kanan seimbang.
2. Stafel
Format ini dikenal pula Format report. Dilaporkan dari atas ke bawah mengenai harta, hutang, dan modal. Total harta harus sama dengan total dari hutang dan modal. Dalam MYOB, laporan Reportnya harta - hutang = modal, tetap sama.
Nah, bagaimana pelaporan Harta? Hutang? Modal?
HARTA
Harta dilaporkan berdasarkan likuiditasnya yakni mudah tidaknya untuk segera diuangkan.
1. Harta Lancar, misalnya : Kas Kecil, Kas di Bank, Surat Berharga(investasi jangka pendek), Persediaan Bahan Baku, Persediaan Bahan Pembantu, Persediaan Barang Jadi, Persediaan Barang Dagangan, Piutang Wesel, Piutang Dagang, Piutang Non Dagang, dan Perlengkapan.
2. Investasi Jangka Panjang, misalnya : Investasi dalam Saham Preferen, Investasi Dalam Saham Biasa, Investasi Dalam Obligasi, dan Deposito di bank.
3. Harta Tetap, misalnya : Peralatan, Kendaraan, Mesin-mesin, Bangunan/Gedung, dan Tanah. Disajikan harga perolehannya kemudian dikurangi akumulasi akun kontranya sehingga nampak Nilai Bukunya. Harta Tetap selalu dilaporkan sebesar Nilai Bukunya. Jangan Lupa adanya penyesuaian atas penyusutan aktiva tetap.
4. Harta Tak berwujud, misalnya : Goodwill, Hak Paten, Merk Dagang, Franchise, dan Copy Rights. Disajikan sesuai saldo per tanggal akhir periode yaitu setelah adanya amortisasi secara langsung terhadap harta ini melalui penyesuaian.
5. Harta Lain, misalnya : Gedung dalam Pembangunan, Mesin atau Peralatan dalam perakitan.
HUTANG
Hutang disajikan dalam Neraca sesuai termin atau tanggal jatuh temponya. Jika pelunasan hutang tersebut kurang dari 1 periode akuntansi, disebut hutang lancar. Jika pelunasannya lebih dari 1 periode akuntansi, disebut hutang jangka panjang.
1. Hutang Lancar(Jangka Pendek), misalnya : Hutang dagang, wesel bayar jangka pendek, dan hutang non dagang. Dalam koperasi ada Simpanan Sukarela, Dana pembangunan daerah kerja(PDK), Dana sosial, Dana pendidikan koperasi, Dana kesejahteraan pegawai, Dana pembangunan daerah kerja dan juga Jasa Anggota dan Jasa Simpanan jika belum dibayarkan.
2. Hutang jangka Panjang, misalnya : Hutang Hipotik, Hutang Obligasi
MODAL
Sesuai Laporan Perubahan Modal yang telah dipelajari sebelumnya, modal setiap perusahaan berbeda-beda, sesuai bentuknya.
• Perseorangan
1. Modal Pemilik, dilaporkan Modal Akhirnya. Saldo Akhir Modal diperoleh dari perhitungan pada Laporan Perubahan modal.
• Firma dan komanditer
1. Modal setiap Sekutu, dilaporkan Modal Akhirnya pula. Saldo Akhir Modal untuk setiap sekutu diperoleh dari perhitungan pada Laporan Perubahan Modal.
• Koperasi
1. Simpanan Pokok, dilaporkan Saldo Akhir pada perhitungan Laporan Perubahan Posisi Keuangan. Simpanan Pokok sebagai setoran modal awal saat masuk sebagai anggota koperasi. Berkurang jika anggota keluar.
2. Simpanan Wajib, dilaporkan Saldo Akhirnya. Simpanan Wajib sebagai setoran modal yang wajib dibayarkan pada tanggal yang telah ditentukan oleh setiap angoota koperasi. Berkurang jika anggota keluar.
3. Dana Cadangan, dilaporkan Saldo Akhirnya. Modal ini diperoleh dari laba yang telah diperoleh koperasi sesuai prosentase yang telah ditetapkan dalam RAT(Rapat Anggota Tahunan).
4. SHU Tak Dibagi, dilaporkan Saldo Akhir pada perhitungan Laporan Perubahan Posisi Keuangan. Biasanya SHU tidak dibagikan karena dalam nominal receh atau koma-koma sehingga saldo yang relatif kecil ini tidak dapat dibagikan dan digunakan sebagai modal koperasi. Berkurang jika koperasi merugi.
5. Modal Donasi. Koperasi biasanya memperoleh hibah atau donasi, baik dari pemerintah maupun pihak lain. Berkurang jika koperasi mengalami kerugian terus menerus/dalam jumlah yang besar dan saldonya cenderung tetap sepanjang tidak ada donasi yang diterima lagi.
• PT
1. Modal Saham, dilaporkan Saldo Akhir pada Buku besar per tanggal akhir periode. Saldonya akan selalu tetap sepanjang tidak ada emisi saham(menerbitkan Saham kepada masyarakat lagi).
2. Agio, dilaporkan Saldo Akhir pada Buku besar per tanggal akhir periode yaitu setelah adanya amortisasi agio hingga tgl akhir periode melalui penyesuaian.
3. Disagio, dilaporkan Saldo Akhir pada Buku besar per tanggal akhir periode yaitu setelah adanya amortisasi disagio hingga tgl akhir periode melalui penyesuaian.
4. Laba Ditahan, dilaporkan saldo akhirnya. Saldo Akhir Laba Ditahan diperoleh dari perhitungan pada Laporan Perubahan Laba Ditahan.

Jumat, 02 Juli 2010

Laporan Perubahan Modal

Laporan Perubahan Modal menginformasikan perubahan saldo modal berupa kenaikan atau penurunan sebagai akibat dari laba atau rugi, dan tambahan atau pengurangan modal oleh pemilik modal.
Jika dalam Laporan Rugi/Laba yang membedakan ialah jenis perusahaannya(jasa, dagang, manufaktur), dalam Laporan Perubahan Modal yang membedakan ialah bentuk perusahaannya(Po, Fa, CV, PT, Koperasi).
Mengenai modal, akan dikupas dalam akuntansi intermediate, yaitu akuntansi modal. Sekarang yang penting mengetahui sebab-sebab saldo modal berubah.
1. Perseorangan (Po)
Perusahaan ini hanya dimiliki aleh satu orang saja sehingga modalnya hanya modal si pemilik, dalam akun Modal (nama pemilik).

Bagan di atas akan diparafrasekan ke dalam laporan perubahan modal dengan format:

Prive berarti pengambilan pribadi oleh pemilik. Dalam Po, prive bersaldo normal Debit sebagai akun kontra Modal Pemilik.

2. Firma(Fa) dan Persekutuan komanditer(CV)
Perusahaan ini minimal didirikan oleh 2 orang. Perbedaan antara Fa dan CV ialah dalam Fa, semua pemilik modal secara aktif sebagai manajemen perusahaan, sementara CV dimiliki oleh sekutu aktif yang bertindak sebagai manajemen dan sekutu pasif yang hanya menyetor modal. Sekutu aktif awalnya bisa saja tanpa modal dan hanya mengandalkan skill managerial yang dimilikinya, kemudian baru akan mempunyai modal setelah pembagian modal atas laba yang diperoleh. Nah, karena pemiliknya lebih dari satu, untuk membedakan modal antar pemilik, nama akunnya pun sesuai nama pemilik, yakni Modal (nama pemilik pertama), Modal (nama pemilik kedua), dst. Format laporan keduanya sama.

Bagan di atas akan diparafrasekan ke dalam laporan perubahan modal dengan format:

Prive berarti pengambilan pribadi oleh setiap pemilik sehingga bersaldo debit. Selain itu, Prive dalam Fa memiliki fungsi khusus yakni sebagai pos alokasi adanya laba sehingga bersaldo kredit. Setelah itu, prive akan dialokasikan pada modal (atau dianggap setoran pemilik) boleh pula dialokasikan per kas (atau dianggap pengambilan pemilik) bergantung pada pemiliknya.

3. Perseroan Terbatas(PT)
Modal PT terdiri atas Saham-saham yang ditempatkan kepada para pemegang saham. Jumlah modal yang ditempatkan nilai nominalnya akan selalu tetap namun harga jualnya bergantung pada kurs. Jika di bawah 100% akan rugi dengan akun Disagio. Jika di atas 100% akan laba dengan akun Agio (dengan catatan biaya penjualan lebih rendah). Ada 2 jenis saham yaitu saham biasa dan saham preferen.
Modal Saham tidak akan berubah saldonya sepanjang tidak melakukan emisi saham dan laba tak akan ada pengaruhnya. Yang dilaporkan ialah perubahan pada laba ditahan, yakni akun untuk mencatat akumulasi laba dan rugi, karena akun Modal Saham tidak akan berubah saldonya jikia tidak menerbitkan saham lagi. Akun agio dan disagio hanya akan muncul di neraca. Perubahan kedua akun ini tidak perlu dilaporkan dalam Laporan Perubahan Modal.

Bagan di atas akan diparafrasekan ke dalam laporan perubahan modal dengan format:



4. Koperasi
Modal Koperasi akan berubah sesuai bagan di bawah ini:

Bagan di atas akan diparafrasekan ke dalam laporan perubahan modal dengan format:

Ada istilah khusus untuk adanya laba atau rugi yakni Sisa Hasil Usaha(SHU). SHU bernilai positif jika laba, dan bernilai negatif jika rugi. SHU dialokasikan untuk 2 akun modal saja, yakni Dana Cadangan untuk penambahan modal, dan SHU Tak Dibagi karena adanya angka-angka unik sehingga sulit dibagikan.
Simpanan Pokok sebagai setoran modal saat masuk sebagai anggota. Simpanan Wajib sebagai setoran modal pada tanggal yang telah ditentukan. Karena anggota koperasi banyak sekali, sehingga dibuat buku pembantu untuk merinci data setiap anggota. Berkurangnya Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib karena keluarnya anggota. Koperasi biasa mendapat modal donasi atau hibah dari pemerintah karena koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi Negara yang merupakan kumpulan orang bukan kumpulan MODAL. Biasanya justru perusahaan yang memberikan donasi kepada masyarakat. Selain sebagai sarana promosi juga sebagai ladang amal.

Laporan Rugi/Laba


Menyelesaikan laporan keuangan merupakan tahapan proses reporting. Laporan pertama adalah Laporan Rugi/Laba atau Laporan Laba/Rugi. Laporan ini menginformasikan penandingan antara pendapatan dan beban yang akan menghasilkan sisa berupa laba/rugi. Dalam koperasi, disebut Laporan Perhitungan Sisa Hasil Usaha.
Secara sederhana, dalam laporan ini yang terkait ialah akun-akun nominal. Untuk formatnya, ada 2 yaitu:
1.      Single Step
Semua pendapatan dijadikan satu dan semua beban dijadikan satu. Setelah itu antara pendapatan dan beban, dicari selisihnya. Disebut single step karena langkah perhitungannya hanyalah satu tahap, yaitu menyelisihkan total seluruh pendapatan dengan total seluruh beban tanpa melihat apakah dari usaha atau dari luar usaha. Meskipun sangat sederhana dan mudah disusun, format ini jarang digunakan karena informasi yang dilaporkan kurang lengkap. Biasanya hanya pada perusahaan jasa.
2.      Multiple Step
Format ini sering dipakai karena mengklasifikasikan perhitungannya menjadi beberapa tahapan sehingga informasi yang disajikan lengkap. Tahapan dimulai dari menghitung pendapatan bersih usaha, menghitung HPP(nanti akan diuraikan), menghitung laba kotor usaha, menghitung beban bagian penjualan, menghitung beban bagian administrasi dan umum, menghitung laba usaha(laba operasi), menghitung pendapatan di luar usaha, menghitung beban di luar usaha, menghitung laba sebelum pajak atau rugi usaha jika terjadi, menghitung pajaknya jika laba, dan terakhir menghitung besar laba setelah pajak penghasilan badan. Aspek detail yang dilaporkan membuat format ini lebih lengkap daripada single step meskipun bertahap-tahap.
Pembuatan laporan ini bisa dibantu dengan neraca lajur. Apalagi dalam neraca lajur ada kolom khusus Ikhtisar Rugi/Laba beserta laba/rugi yang diperoleh. Namun bisa juga diambil dari NSD(Neraca Saldo Disesuaikan) karena sifat neraca lajur yang opsional. Saya menyarankan tetap menggunakan neraca lajur karena jika ada cara yang lebih mudah kenapa tidak digunakan?
Prosesnya mudah, yaitu :
1.      Memahami klasifikasi dan tahapan yang akan dilakukan. Klasifikasi bisa dilihat berdasarkan Nomor Akun. Tahapan perlu diingat-ingat sesuai jenis formatnya apakah single atau multiple.
2.      Menyalin data dari neraca lajur pada setiap tahapan sesuai klasifikasinya. Data di sini berarti nama akun dan saldonya. Pada setiap tahap diberi keterangan judul dan keterangan jumlah untuk mengklasifikasikan tahapannya.
3.      Hitung sesuai tahapan, bukan seperti di neraca lajur karena ada penambahan dan pengurangan di setiap tahap.
Apa yang akan ditulis?
Sesuai akun yang dimiliki perusahaan, karena laporan ini disusun berdasarkan akun-akun nominal. Nah, laporan  rugi laba hanya menunjukkan laba atau rugi yang terjadi pada periode ybs. bukan akumulasi aktivitas dari awal perusahaan berdiri. Sebelum menyusun laporan ini, data-datanya diharapkan sudah benar sehingga bisa dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk itulah, betapa pentingnya ayat jurnal penyesuaian dan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum.
Pada perusahaan jasa ada akun Pendapatan jasa, pada perusahaan dagang dan manufaktur ada akun penjualan yang merupakan akun pendapatan usaha. Dengan single ataupun multiple disajikan saldo nettonya.
Pada perusahaan jasa tidak ada penjualan barang dagangan, sehingga tidak ada perhitungan harga pokok penjualan atau HPP. Namun, perusahaan dagang jelas ada perhitungannya. Sistem perpetual boleh tanpa perhitungan & langsung ditulis berapa HPP-nya. Perusahaan manufaktur lebih mendetail dalam perhitungan HPP, dihitung pula Harga pokok produksi dari biaya Bahan Baku, Tenaga Kerja, dan Biaya Lain Pabrik yang dikenal BOP( biaya overhead pabrik).
Ok, sekarang langsung ke single step yang hanya cocok pada perusahaan jasa dengan asumsi laba.

Nah, sekarang yang multiple step. Dengan asumsi laba.
1.      Perusahaan Jasa

2.      Perusahaan Dagang

3.      Untuk Manufaktur

Laporan rugi/laba memiliki hubungan dengan laporan Perubahan Modal, yakni laba  setelah pajak atau rugi usaha dari laporan rugi/laba akan disalin ke dalam laporan perubahan modal.

Kamis, 01 Juli 2010

Laba VS Rugi

Laba atau Rugi dihitung dari Penandingan antara pendapatan dan beban.
Laba terjadi jikalau pendapatan > beban.
Rugi terjadi jikalau pendapatan < beban. Untuk menghasilkan laba tentunya omzet/pendapatan harus selalu ditingkatkan dengan berbagai cara yang benar. Sedangkan biaya untuk menghasilkan omzet tersebut(beban) harus ditekan seefisien mungkin tanpa mengabaikan kualitas/mutu. Untuk menambah pendapatan, selain dari usaha pokok bisa dari pendapatan di luar usaha yaitu investasi, dengan catatan ada dana yang menganggur atau sedang tidak digunakan. Investasi tak hanya pada saham atau obligasi, bisa juga dari harta tetap yang dimiliki perusahaan. Walau tujuan utama harta tetap bukan untuk dijual, namun kalau bisa memiliki usia ekonomis yang lama, nilai estetika yang tinggi, dan tidak mudah rusak. Jika akan diganti dengan yang baru masih bisa dijual di atas nilai bukunya, sehingga akan diperoleh laba penjualan. Investasi pada saham dan obligasi memiliki resiko tinggi namun hasilnya lumayan besar. Deviden sebagai pendapatan dari investasi saham dan bunga sebagai pendapatan dari investasi obligasi masih akan bertambah dengan adanya laba penjualan keduanya, jika kurs saat menjual lebih tinggi daripada kurs saat membeli. Untuk mengurangi biaya produksi, sesuai bidang kegiatan dari usaha masing-masing selalu mengikuti perkembangan IPTEK masing-masing. Karena akan ada informasi dan teknologi baru yang bisa mengurangi pengeluaran selama ini. Hal yang sangat tidak diharapkan adalah gulung tikar alias bangkrut alias merugi. Adakah perusahaan yang mau rugi???? Pertanyaan retoris ini tak usah dijawab, pasti tak ada yang mau rugi. Kita punya prinsip going concern dimana perusahaan akan selalu untung dan tak akan ditutup atau akan Jaya Selalu. Namun, kadangkala ada perusahaan yang main-main dengan laporan keuangannya sehingga menunjukkan suatu kerugian walaupun sebenarnya laba. Akuntansi memiliki prinsip kejujuran dan objektivitas sehingga ilmu hitam ini tak boleh diikuti. Karena akan merugikan berbagai pihak jika ditelusuri lebih lanjut. Kecuali sekali jika perusahaan memang rugi. Perlu strategi baru agar tetap eksis atau going concern. Perusahaan hendaknya tidak mengabaikan tempat ia berada dan masyarakat di sekitarnya. Jika mencari tenaga kerja bisa dari daerah sekitar, dan jika memperoleh untung/laba jangan lupa pajaknya, demi kepentingan bersama. Pajak merupakan suatu kewajiban bagi perusahaan yang memperoleh keuntungan. Pungutan kepada kas Negara ini akan digunakan dalam Membangun Negara yang Lebih Baik. Kontraprestasinya memang tidak langsung dirasakan, namun coba renungilah: Siapa yang membangun fasilitas umum? Siapa yang membangun jalan raya untuk penyaluran produk perusahaan? Siapa yang memberi kemudahan dan stimulus usaha di Negara kita? Sudah majukah Negara kita? Masih perlu pembangunankah Negara kita? Lalu, Siapa yang memberikan dana pembangunan tersebut? Salah satu sumber dana pembangunan adalah dari sektor pajak. Jadi, Jangan pernah main-main dengan perhitungan laba/rugi!!! karena akan berdampak sistemik. Kalau tak mau bayar pajak, Apa kata dunia? Mengenai pajak akan kita bahas ke depan. Sekarang mari kita bahas mengenai perkembangan usaha perusahaan. Perusahaan yang selalu untung akan berkembang dengan baik. Nah, ada pertanyaan, untung yang bagaimana? Dari sudut pandang akuntansi, yang dimaksud untung di sini ialah laba operasi atau laba usaha terpisah dari hal-hal di luar usaha. Laba usaha ini akan deperbandingkan dari periode ke periode. Laba usaha diperoleh hanya dari perhitungan pendapatan usaha dikurangi beban usaha pada peride ybs. Dalam perusahaan dagang dan manufaktur sebelum dikurangi beban usaha, pendapatan usaha dikurangi dengan HPP yakni Harga Pokok Penjualan. Selanjutnya, perusahaan ingin membayar pajak. Dihitung dari laba yang mana pajak ini? Pajak dari penghasilan usaha perusahaan dihitung dari laba sebelum pajak yaitu laba operasi ditambah pendapatan di luar usaha dikurangi beban di luar usaha. Laba sebelum pajak dikali tarif yang berlaku itulah besarnya pajak yang wajib disetor melalui bank persepsi kepada kantor kas Negara. Pembayaran pajak bisa dilakukan secara angsuran tiap bulan dengan jumlah tertentu sebelum akhir periode/saat perhitungan pajak. Kekurangannya tinggal dibayarkan setelah perhitungan selesai. Jika kelebihan, bisa digunakan untuk pembayaran pajak periode berikutnya. By the way, sudah jelaskah mengenai laba atau rugi? Jika masih curious selalu baca blog ini ya……..

Neraca Lajur

Neraca Lajur atau kertas kerja atau bahasa inggrisnya worksheet, adalah alat Bantu dalam menyusun laporan keuangan. Walaupun penggunaanya optional(boleh tanpa neraca lajur) dalam penyusunan laporan keuangan, tetapi neraca lajur ini akan sangat membantu dalam penyelesaian laporan keuangan. Hal ini karena kita dapat mengetahui berapa laba atau rugi yang terjadi secara cepat & penyusunan akun berdasarkan nomor akun sehingga memudahkan pengklasifikasian.
Bagaimana Formatnya?

Nah, ternyata ada kolom untuk Neraca Saldo(NS), Penyesuaian(AJP), Neraca Saldo Disesuaikan(NSD), Ikhtisar Rugi/Laba(ILR), dan Neraca yang masing-masing memiliki kolom debit dan kredit. Jika dijumlahkan ada 5 kolom debit, 5 kolom kredit berarti 10 kolom. Nah format tadi disebut format 10 kolom. Format inilah yang sering dipakai.
Semuanya diringkas menjadi satu dalam neraca lajur. Kita bisa mencatat NS, ringkasan AJP, NSD, bahkan 2 laporan keuangan yaitu laporan Rugi/Laba dan Neraca.
Kelemahan Neraca lajur ialah, pengerjaannya memakan banyak waktu dan cenderung banyak kesalahan jika belum terbiasa dan dikerjakan tanpa trik.
Ada beberapa trik simple namun bisa mempercepat dan mengurangi kesalahan yaitu:
1. Range(kotak) yang kosong langsung diberi tanda strip(-), apalagi jelas bukan letak saldo normal akun dalam baris/lajur akun tersebut, kecuali AJP.
2. Isilah Neraca Saldo.
3. Selalu ingat letak kolom Debit dan Kredit.
4. Kerjakan penyesuaian di jurnal umum. Setelah selesai langsung diringkas di neraca lajur.
5. Gunakan pensil untuk saldo yang masih bisa berubah karena adanya perhitungan pajak.
6. Gunakan Penggaris untuk menghindari salah lajur. Bisa 1 atau 2 penggaris. Kerjakan langsung mblanjur hingga neraca bersamaan dengan peringkasan AJP.
7. Hitung total kolom debit dan kredit dari ILR dan Neraca saja dulu. Lalu diselisihkan. Itulah laba atau rugi sebelum pajak.
8. Jika selisihnya berbeda berarti hal yang paling tak diharapkan telah terjadi yakni KESALAHAN. Periksa kembali mulai dari hitung kembali selisihnya, totalnya, letak debit kredit, angka-angkanya, lalu jika masih belum ditemukan letak kesalahannya, jumlahkan neraca saldo(apakah balance), jika iya berarti NS tidak salah. Jumlahkan AJP(apakah balance), jika iya berarti AJP tidak salah. Jumlahkan NSD(apakah balance) jika iya berarti NSD tidak salah. Sebenarnya ada angka-angka unik yang bisa menunjukkan letak kesalahan. Tetapi akan dibahas lebih lanjut nanti.
9. Jika selisihnya sama. Selamat anda teliti!!! Tapi balance belum tentu benar lho……..
10. Jika terjadi rugi, isikan langsung selisih rugi tadi di kolom kredit ILR dan kolom Debit Neraca di bawah totalnya. Lalu hitung totalnya. Pasti balance.
11. Jika terjadi laba, bayarlah pajak demi kemajuan bangsa. Hitung pajaknya dulu sesuai kaidah perpajakan yang berlaku pada periode ybs. Kemudian lakukan seperti proses 4 hingga 7. Itulah pajak laba setelah pajak. Isikan langsung selisih laba tadi di kolom Debit ILR dan kolom Kredit Neraca di bawah totalnya. Lalu hitung totalnya. Pasti balance.
12. Anggap proses no 8 tak terjadi, berarti langsung selisihnya sama. Setelah tahap ke-11 selesai, hitung total NS & AJP. Untuk NSD gunakan cara smart, yaitu jumlah dari kolom di ILR & Neraca digabung sesuai Debit dan Kreditnya. Finally, congratulation!!! You’ve made it.

Rabu, 30 Juni 2010

Penyesuaian

Untuk memastikan bahwa prinsip matching & pengakuan pendapatan dipatuhi, maka dibuat Penyesuaian di jurnal umum. Tujuannya jelas agar informasi yang akan dilaporkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Penyesuaian meliputi pos-pos berikut ini:
1.      Biaya Dibayar Di Muka (Piutang Beban)
Beban telah dibayar tunai dan dicatat dalam jurnal. Beban tersebut merupakan beban untuk beberapa hari/bulan/tahun ke depan atau merupakan beban yang dibayar di muka. Pencatatan di dalam jurnal ketika pembayaran dapat menggunakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan rugi/laba dengan akun Beban … atau pendekatan neraca dengan akun Beban  … dibayar di muka
Pada waktu akan menyusun laporan keuangan, harus dilaporkan jumlah sebenarnya yang telah menjadi beban pada periode yang bersangkutan dan juga jumlah sebenarnya yang masih menjadi piutang. Oleh karenanya pencatatan yang sebelumnya telah dilakukan perlu disesuaikan melalui Ayat Jurnal Penyesuaian(AJP).

2.      Pendapatan Diterima Di Muka (Hutang Pendapatan)
Pendapatan belum seluruhnya terjadi, namun telah dicatat seluruhnya karena sudah diterima pembayaran tunai atas pendapatan tadi. Pendapatan ini dapat dicatat di jurnal dengan pendekatan neraca dengan akun Pendapatan… diterima dimuka atau pendekatan rugi/laba dengan akun Pendapatan….
Pada waktu akan menyusun laporan keuangan, harus dilaporkan jumlah sebenarnya yang telah menjadi pendapatan pada periode yang bersangkutan dan juga jumlah sebenarnya yang masih menjadi hutang. Oleh karenanya, pencatatan yang telah dilakukan harus disesuaikan dengan AJP.

3.      Biaya Yang Masih Harus Dibayar (Hutang Beban)
Beban yang seharusnya sudah dicatat sebagai beban ternyata belum juga dicatat karena belum terjadi pembayaran beban. Hal ini karena pembayaran telah ditentukan pada periode berikutnya. Karena belum ada pencatatan sebelumnya, maka dalam AJP ini kita tunjukkan adanya hutang dan beban yang belum diakui.

4.      Pendapatan Yang Masih Harus Diterima (Piutang Pendapatan)
Pendapatan seharusnya sudah diterima pembayannya dari pelanggan, namun sampai akhir periode belum juga diterima sehingga belum dicatat dalam jurnal. Hal ini karena pembayaran akan dilakukan pada periode berikutnya. Karena belum ada pencatatan sebelumnya, maka dalam AJP ditunjukkan adanya pengakuan pendapatan dan piutang.

5.      Biaya Pengalokasian Harga Perolehan
Harta atau bahasa Belandanya Aktiva, yang memiliki nilai ekonomis lebih dari satu periode atau bisa digunakan dalam beberapa tahun ke depan, disebut aktiva tetap. Harga perolehannya cukup material tetapi harus dialokasikan pada periode penggunaannya dengan cara disusutkan(akan dibahas lebih lanjut dalam materi Harta Tetap). Dalam pertambangan, kehutanan dsb ada hak yang harus dibayarkan untuk memperoleh izin pengeksploitasian. Biaya perolehannya juga harus dialokasikan pada periode pengeksploitasiannya dengan cara dideplesi(akan dibahas lebih lanjut).
Dalam AJP ini didebit akun beban dan dikredit akun kontra dari harta ybs. Maksud pengakuan beban ini adalah sebagai pengalokasian harga perolehan yang telah dibayarkan pada periode penggunaannya. Dan adanya kredit akun kontra tersebut bukan berarti mengumpulkan uang namun memiliki arti bahwa nilai buku(nilai yang diakui) harta tadi, dicatat setelah nilai harta tadi dikurangi dengan akun kontranya.
Dalam Harta Tidak Berwujud, ada istilah amortisasi. ini akan dibahas lebih lanjut dalam akuntansi intermediate.

6.      Biaya Penyisihan Kemungkinan Kerugian
Biaya ini muncul sebagai pelaksanaan prinsip konservatisme, yaitu kehati-hatian jika pada periode berikutnya terjadi kerugian tetapi disebabkan oleh periode saat ini. Misalnya, piutang karena penjualan kredit tahun ini hingga akhir periode belum dilunasi. Selalu ada kemungkinan piutang yang telah diberikan tidak dilunasi oleh debitur. Mungkin debitur bangkrut, masuk penjara, meninggal, pindah dan tak diketahui lagi dsb. Kerugian nantinya sudah harus dicadangkan mulai dari sekarang dan supaya beban kerugian yang ada tidak salah periode.

7.    Salah Catat dan Belum Dicatat
Transaksi yang salah perlu dikoreksi, hal ini memang paling dihindari. Namun, manusiawi adanya human error. Koreksi dapat dilakukan langsung pada jurnal yang telah dibuat dengan mencoret catatan salahnya dan mencatat pembetulannya. Adakalanya hal ini tak bisa dilakukan sehingga perlu dibuat pembetulan pada jurnal penyesuaian.
Transaksi yang belum dicatat selalu ada jika perusahaan memiliki rekening giro di bank. Pasti ada Beban administrasi dan Jasa giro yang belum dicatat perusahaan karena tak ada hitam di atas putihnya sebelum menerima Rekening Koran dari bank. Selain karena hal tadi, masih ada hal lain yang mungkin, yaitu bukti yang terselip atau hal lainnya. Sehingga, wajib untuk dicatat melalui ayat penyesuaian.

Senin, 28 Juni 2010

Neraca Saldo

Sekarang adalah tahap summaryzing ke neraca saldo. Neraca saldo adalah daftar dari saldo-saldo akun buku besar untuk menunjukkan ketepatan posting seluruh catatan jurnal dan perhitungan saldo buku besar. Hal ini ditinjau dari total debit yang harus balance/seimbang dengan total kredit. Namanya saja neraca, kalau tidak balance berarti ada kekeliruan. Segeralah dilakukan koreksi(hal yang paling tidak diharapkan).

Setelah seimbang, data di Neraca Saldo itu pun masih belum sesuai dengan kondisi riil sehingga perlu dibuat ayat jurnal penyesuaian(materi berikutnya). Setelah selesai memposting ayat jurnal penyesuaian ke dalam buku besar, dibuat kembali neraca saldo. Namanya Neraca Saldo Disesuaikan atau Neraca Saldo Setelah Penyesuaian yang nominalnya sudah sesuai realita dan bisa digunakan untuk menyusun laporan keuangan(materi berikutnya).

Pada saat memulai periode akuntansi, yang dibutuhkan adalah data neraca awal berisi akun-akun yang akan digunakan dalam siklus akuntansi. Akun-akun tadi boleh ditambah jika belum ada akun yang sesuai untuk mencatat suatu transaksi keuangan.
Namun, di akhir periode, untuk memisahkan perhitungan laba/rugi periode saat ini dengan periode berikutnya, akun-akun pembantu modal(prive,deviden,pendapatan,beban,ikhtisar rugi/laba) harus telah bersaldo nol. Bagaimana caranya? Dengan ayat jurnal penutup(materi selanjutnya). Setelah ayat jurnal penutup diposting ke dalam buku besar,tampaklah hanya akun-akun riil yang masih bersaldo di atas nol. Kemudian dibuat Neraca Saldo Setelah Penutupan.

Jika memulai periode baru selanjutnya, apakah akun yang digunakan periode sebelumnya boleh dilanjutkan?
Boleh asalkan saldonya tidak seperti yang tercantum dalam neraca saldo setelah penyesuaian ataupun neraca saldo setelah penutupan. Nah, saldo yang bagaimana  yang layak?
Pertama, prinsip konsistensi harus selalu ditetapkan agar cara/sistem/metode yang selama ini berjalan dengan normal tidak kacau karena perubahan yang inkonsisten. Hal ini adalah melalui Akun-akun beban dan pendapatan yang biasanya digunakan harus muncul kembali jika pencatatan awalnya menggunakan akun-akun beban dan pendapatan. Akun-akun tadi menunjukkan saldo riil di akhir periode setelah penyesuaian namun menunjukkan saldo nol setelah penutupan. Penyebab inkonsisten ke depan adalah adanya Penyesuaian. Sehingga ayat jurnalnya perlu dibalik dalam ayat jurnal pembalik(materi selanjutnya). Setelah posting pembalik, saldo buku besar akan siap dilaporkan dalam Neraca Saldo Setelah Pembalikan sebagai data awal periode berikutnya yang konsisten.

Daftar Saldo

Kontrol Catatan antara akun kontrol di dalam buku besar dengan buku pembantunya adalah dengan menghitung total saldo akhir buku pembantu. Perhitungan ini dilaporkan melalui daftar saldo. Setelah dihitung manual sebelum ditulis di daftar saldonya, apakah ada selisih antara buku pembantu dengan akun kontrol? Jika ada, pasti ada kekeliruan dalam proses classifying dan/atau recording. Segera dicari penyebabnya dan segeralah dikoreksi.
Sesuai macamnya buku pembantu yang digunakan, dibuat daftar saldonya. Ini sebagai bukti control antara buku pembantu dengan buku besar.
Format daftar saldo antara lain:

Posting Buku Besar


Pengaruh suatu transaksi keuangan belum nampak di dalam jurnal. Oleh karenanya, untuk mengetahui berapa, karena apa dan saldonya sisa berapa? Digunakan Buku besar.
Setelah melakukan rekapitulasi jurnal, langkah selanjutnya adalah posting.
Posting adalah bagian dari tahap classifying.
Posting dilakukan untuk 4 hal, yaitu:
1.      Posting transaksi dari jurnal khusus/jurnal umum
2.      Posting ayat jurnal penyesuaian
3.      Posting ayat jurnal penutup
4.      Posting ayat jurnal pembalik
Bagaimana format buku besar?

Ketentuan pengisian:
·        Tanggalnya diisi tanggal posting jika menggunakan rekapitulasi. Jika tanpa rekapitulasi, diisi tanggal transaksi.
·        Keterangan menjelaskan alasan/sebab perubahan yaitu transaksinya
·        Ref diisi keterangan jurnal dan halaman jurnal. Misalnya JKM-3 artinya dari Jurnal Penerimaan Kas halaman 3. Singkatan tadi hanya contoh saja dan tidak mutlak JKM itu Jurnal Kas Masuk. Boleh menggunakan keterangan lain namun konsisten. Jika akun tadi ada di beberapa halaman maka keterangan halaman boleh menggunakan halaman terakhir.
·        Perubahan di sisi apa? Debit atau kredit. Isikan di kolomnya.
·        Saldo dihitung dari Saldo yang ada ditambah atau dikurangi sesuai sifat akun. Yaitu, sisi debit untuk menambah akun harta dan beban tapi mengurangi akun hutang, modal, pendapatan sedangkan kredit sebaliknya.

Tips memposting dengan cepat:
·        Susun buku besar menumpuk menyamping agar terlihat semua nomor akunnya secara urut kemudian disteples.
·        Dalam posting, salinlah data rekap hanya keterangan jurnal beserta halaman dan nominal debit atau kreditnya dulu. Jangan lupa beri tanda cek mark(√) setelah posting.
·        Postinglah saldo awal tiap akun
·        Postinglah dari data rekapitulasi JPJ(Jurnal Penjualan) kemudian lihat JU(Jurnal Umum) adakah retur penjualan. Jika ada, Postinglah Retur Penjualan itu.
·        Kemudian postinglah rekapitulasi JPB(Jurnal Pembelian) kemudian lihat JU(Jurnal Umum) adakah retur pembelian. Jika ada, postinglah Retur Pembelian itu.
·        Postinglah rekapitulasi JKM(Jurnal Kas Masuk)
·        Postinglah rekapitulasi JKK(Jurnal Kas Keluar)
·        Terakhir, baru posting JU(Jurnal Umum)
·        Setelah semuanya diposting, hitung dan isilah kolom saldo.
·        Setelah selesai, perkirakan keterangan apa yang harus ditulis di kolom keterangan berdasarkan kolom Ref.
·        Tanggal hanya ada 2 yaitu tanggal  saldo awal dan tanggal akhir periode. Berbeda dengan yang hanya menggunakan jurnal umum, tanggal akan sesuai transaksinya dan akan ada banyak sekali posting karena tanpa rekapitulasi.

Minggu, 27 Juni 2010

Rekapitulasi

Untuk memudahkan proses transfer data jurnal ke buku besar atau istilah kerennya posting, digunakan suatu form ringkasan jurnal yaitu rekapitulasi.
Rekapitulasi berisi kolom debit dan kredit untuk kemudian diisi hanya nomor akun beserta saldonya dari kolom ybs.
Total dari kolom debit dan kredit harus seimbang, jika tidak seimbang berarti ada yang telah salah.
Jika ada akun yang ditulis di dua sisi, yaitu debit dan kredit pada jurnal, dalam rekapitulasi juga harus ditulis di dua sisi dan tidak diselisihkan. Di dalam rekapitulasi yang dilakukan ialah menjumlahkan nominal dari akun yang sama dengan syarat sama-sama debit atau sama-sama kredit.
Ada kemudahan dalam jurnal khusus, yakni kolom yang lurus khusus untuk satu akun sehingga total dari akun tersebut tinggal disalin dalam rekapitulasi.
Untuk menandai sudah direkap atau belum, dalam kolom refensi(ref) di jurnal, ditulis nomor akunnya untuk yang sedang akan direkap. Kemudian baru direkap.

Buku Pembantu


Buku pembantu merinci  setiap transaksi yang berpengaruh terhadap setiap rekening di buku besar umum yang memerlukan perincian(disebut akun kontrol). Biasanya ada 3 buku pembantu yang digunakan yaitu:
  1. Buku besar pembantu piutang
Setiap customer yang dipiutangi perusahaan(disebut debitur) perlu data rinci atas terjadinya, berkurangnya, bertambahnya, dan lunasnya piutang tersebut. Dengan adanya buku pembantu ini, penelusuran kredit macet dapat diketahui dan segera ditagih.

  1. Buku besar pembantu hutang
Setiap vendor/supplier yang diutangi perusahaan(disebut kreditur) perlu data rinci atas terjadinya, berkurangnya, bertambahnya, dan lunasnya hutang tersebut. Dengan adanya buku pembantu ini, pembayaran hutang dapat diatur agar selalu dalam periode potongan dan dapat diketahui utang kepada siapa saja yang belum dilunasi.

Format buku pembantu piutang dan buku pembantu hutang ini memang seperti buku besar sehingga biasa disebut buku besar pembantu piutang dan buku besar pembantu hutang. Yang membedakan ialah pengisian kolom ref dalam buku pembantu yakni diisi no bukti transaksi sedangkan dalam buku besar diisi jenis & halaman jurnal. Kenapa demikian?
Buku besar pembantu sebagai kontrol pencatatan di dalam jurnal yang merupakan catatan pertama sebelum dicatat ke buku besar, diisi langsung berdasarkan bukti transaksi dan bukan dari data jurnal. Oleh karenanya, kolom referensi itu diisi no bukti. Di dalam jurnal, setelah adanya pencatatan ke dalam buku pembantu, kolom referensi jurnal diisi kode buku besar pembantu ybs. tanpa menunggu hingga waktu posting buku besar umum. Perlu diingat, tanggal harus kronologis sesuai bukti transaksi bukan tanggal akhir periode layaknya posting buku besar.
  1. Kartu persediaan
Dalam materi akuntansi persediaan, ke depan akan kita bahas metode pencatatan perpetual dan periodik. Dalam metode perpetual, mutasi(bertambah dan berkurangnya) persediaan akan dicatat ke dalam kartu persediaan. Setiap persediaan memiliki kartu sendiri-sendiri karena memiliki perbedaan(tingkat harga, unit pengukuran, supplier, dsb.). Kartu ini tidak dimiliki perusahaan tanpa persediaan yakni perusahaan jasa. Namun jika perlengkapan dalam perusahaan jasa perlu data rinci, dapat digunakan.
Ada 3 asumsi mencatat ke dalam kartu ini, yaitu dengan asumsi:
·        FIFO(MPKP)
Asumsinya, persediaan yang masuk ke toko lebih dulu akan dijual lebih dulu. Harga per unitnya selalu up to date(harga terbaru). Biasanya pada produk sembako.
·        LIFO(MTKP)
Asumsinya, persediaan yang masuk ke toko paling baru(the latest) atau masuk terakhir, biasanya akan langsung laris karena mode. Biasanya produk fashion. Sehingga harga yang tersisa adalah harga produk lama yang belum laku ( harga dulu).
·        Moving Average(Rata-rata bergerak)
Harga rata-rata yang fluktuatif bergantung pada perubahan harga dan jumlah unit yang dibeli dan diretur. Untuk menghindari deviasi/penyimpangan harga yang terlampau jauh jika peresediaan ini dicoba menggunakan FIFO dan LIFO lalu diselisihkan persediaan akhirnya.
Mengenai persediaan akan dibahas lebih detail ke depan.

Penjurnalan

Jurnal adalah buku catatan pertama atas transaksi keuangan yang terjadi (Inggrisnya: The Book of Original Entry). Catatan akuntansi ada 2 yaitu di dalam jurnal dan di dalam buku besar.

Ada dua jenis jurnal yakni:
1. Jurnal Umum
Jika jumlah transaksi yang terjadi relatif sedikit & sederhana, SEMUA transaksi cukup dicatat di satu jurnal saja yakni jurnal umum. Bisaanya tanpa direkapitulasi (diringkas total jumlah tiap akun) dan untuk memposting( tahap selanjutnya setelah penjurnalan) adalah satu persatu sehingga dalam buku besar akan tampak mutasi saldo dari tiap transaksi yang telah dicatat.
2. Jurnal Khusus
Jika jumlah transaksi yang terjadi relatif banyak & variatif, transaksi diidentifikasi jenis dan lokasi pencatatannya ke dalam beberapa buku jurnal yang sesuai KEBUTUHAN perusahaan. Jurnal khusus fleksibel formatnya sesuai KEBUTUHAN perusahaan. Biasanya dilengkapi rekapitulasi untuk memudahkan posting ke buku besar dan hanya ada satu tanggal posting saja. Ada 5 macam jurnal yang biasanya digunakan, yakni:
• Jurnal Penerimaan Kas
  Digunakan Khusus mencatat penerimaan uang

• Jurnal Pengeluaran Kas
   Digunakan Khusus mencatat pengeluaran uang

• Jurnal Pembelian
Digunakan Khusus mencatat pembelian kredit. Dalam perusahaan jasa bisa digunakan untuk mencatat pembelian peralatan, perlengkapan, dsb secara kredit. Dalam perusahaan dagang digunakan untuk pembelian kredit barang dagangan. Dalam perusahaan manufaktur, untuk pembelian bahan baku dan bahan pembantu secara kredit. Pembelian tunai dicatat di jurnal pengeluaran kas.

• Jurnal Penjualan
  Digunakan Khusus mencatat penjualan kredit. Penjualan tunai dicatat di jurnal penerimaan kas.

• Jurnal Umum
Fungsinya khusus mencatat transaksi yang tak bisa dicatat di 4 jurnal di atas. Berbeda dengan jurnal umum sebelumnya, jurnal ini tidak digunakan untuk mencatat semua transaksi kecuali yang tidak dapat dicatat di 4 jurnal khusus sebelumnya. Persamaanya dengan jurnal umum sebelumnya ialah, keduanya digunakan untuk mencatat penyesuaian, penutupan, dan pembalikan(akan dibahas lebih lanjut)
.

Sabtu, 26 Juni 2010

Mengelola Bukti Transaksi

Transaksi keuangan akan mempengaruhi posisi keuangan perusahaan.Setiap terjadi transaksi, dibuat bukti transaksi sebagai bukti tertulis hitam di atas putih atas kesepakatan yang telah dilakukan. Berikut macam-macam bukti transaksi:
Kwitansi
Bukti pembayaran ini memiliki makna yang berbeda jika:
    • Menerima, ini artinya telah mengeluarkan uang
    • Memberikan, ini artinya telah menerima uang
Cek
Bukti pembayaran ini juga memiliki arti yang berbeda jika:
    • Menerima, itu artinya telah menerima uang
    • Memberikan, itu artinya telah mengeluarkan uang
Faktur
Bukti jual beli secara kredit ini maksudnya akan berbeda jika:
    • Menerima Faktur Asli, artinya telah melakukan pembelian kredit
    • Memiliki Faktur Kopi, artinya telah melakukan penjualan kredit
Memo Debit
Bukti atas retur yang dibuat oleh pihak pembeli diserahkan kepada penjual
Memo Kredit
Bukti atas retur yang dibuat oleh pihak penjual diserahkan kepada pembeli
Memo
    Bukti internal perusahaan untuk melakukan seperti: penyesuaian, koreksi, penutupan, pembalikan, pembayaran gaji dsb.

    Selanjutnya, proses pengidentifikasian bukti tersebut.

    1. Penerimaan uang dibuatkan Bukti Kas Masuk
    2. Pengeluaran uang dibuatkan Bukti Kas Keluar
    3. Pembelian Kredit dengan Faktur Asli dari penjual
    4. Penjualan Kredit dengan Faktur Kopi yang telah dibuat
    5. Retur Pembelian ataupun Retur Penjualan bisa menggunakan Memo Debit ataupun Memo Kredit. Jika sebagai penjual, berarti retur penjualan. Jika sebagai pembeli berarti retur pembelian
    6. Penyesuaian, Koreksi, Penutupan, Pembalikan dsb. dengan menggunakan memo

    Setelah pengidentifikasian, bukti-bukti tadi bisa dikumpulkan menjadi satu kemudian diarsipkan secara kronologis atau sesuai jenisnya untuk kemudian pada tanggal yang telah ditetapkan, dicatat ke dalam jurnal. Namun, pencatatan ke dalam jurnal juga bisa dilakukan langsung setelah pengidentifikasian bukti-bukti tadi untuk mengantisipasi menggunungnya bukti yang harus diproses.
    Arsip sangat penting kaitannya dengan bukti otentik transaksi yang telah terjadi sehingga jika diadakan pemeriksaan bisa ditunjukkan bukti tersebut.

    Perusahaan

    Bentuk
    Perseorangan (Po)
      Dimiliki oleh seorang yang berkuasa & bertanggung jawab sepenuhnya terhadap seluruh kekayaan & utang piutang perusahaan
      Firma (Fa)
        Dimiliki 2 orang atau lebih yang bersama-sama menjalankan usaha dengan suatu perjanjian
        CV
          Dimiliki 2 orang atau lebih yang anggotanya terdiri dari sekutu aktif dan sekutu pasif
          Perseroan Terbatas (PT)
            Perusahaan berbadan hokum yang modalnya terdiri atas saham pemegang saham
            Koperasi
              Perkumpulan orang-orang yang melakukan usaha bersama atas asas kekeluargaan

              Jenis
              1. Jasa                  : Menyediakan servis/jasa/pelayanan
              2. Dagang             : Membeli lalu Menjual barang tanpa pengolahan ulang
              3. Manufaktur       : Membeli lalu Mengolah dan Menjual produknya

                Bentuk dan jenis perusahaan akan mempengaruhi perlakuan akuntansi terhadap semua transaksi keuangan yang terjadi di perusahaan dan juga penyajian laporan keuangan perusahaan.